Autisme : Mari Mengenal Autisme Pada Anak
Autisme : Mari
Mengenal Autisme Pada Anak
Oleh : Endjelin Veronica
Amapoli, Mahasiswa Institut
Manajemen Wiyata Indonesia
Dunia anak-anak adalah awal dari pembentukan tumbuh kembang dan karakter seseorang dimasa depan. Menurut artikel sehatq.com bahwa pertumbuhan normal manusia itu terdiri dari 8 fase, yaitu : fase prenatal. fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase kanak-kanak tengah dan akhir, fase remaja, fase dewasa muda, fase dewasa tengah dan fase lansia. Selain menjalani perubahan secara fisik, kemampuan berpikir, motorik, emosi, dan sosial juga ikut berubah. Semua fase ini adalah tolak ukur mebentukan sempurna seorang manusia. Namun pada realitanya kita banyak menemukan sebuah fenomena yang tidak biasa dalam perjalanan perkembangan fase pertumbuhan tersebut, salah satu yang sering kita temui adalah Autisme pada anak. Hal ini juga yang terjadi kepada dua dari lima anak saya yang mengidap Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD), hal inilah yang mendorong saya untuk mengambil materi ini dan ingin lebih mengenal autism lebih dalam lagi.
Dikutip dari artikel Alodok, Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang menyebabkan gangguan perilaku dan interaksi sosial. Autisme saat ini disebut sebagai gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Hal ini karena gejala dan tingkat keparahannya bervariasi pada tiap penderita. Gangguan yang termasuk dalam ASD adalah sindrom Asperger, gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS), gangguan autistik, dan childhood disintegrative disorder (sindrom Heller). Kondisi ini sering kali dikaitkan juga dengan sindrom savant. Berdasarkan data yang dihimpun oleh WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Sedangkan, di Indonesia, hingga saat ini belum ada data yang pasti mengenai jumlah penderita autisme. Dalam artikel ini pun dijelaskan mengenai gejala dapat dialami oleh penderita autisme antara lain:
- Gangguan
komunikasi dan interaksi sosial, seperti lebih senang menyendiri, enggan
berbicara dengan orang lain, dan sering mengulang kata yang sama
- Gangguan perilaku, seperti melakukan gerakan yang sama
secara berulang, misalnya selalu berjalan dengan berjinjit
- Gangguan lain,
seperti gangguan kognitif yang menghambat belajar, gangguan mood atau
reaksi emosional, dan kejang
Menurut Autism Recovery Network dalam artikel Apa Itu Autis?, menjelaskan
bahwa berdasarkan tingkat keparahan gejala, anak dengan autism dapat
dideskripsikan sebagai “high function” dan “low function”. Anak-anak “low
function” bias tantrum atau berperilaku kurang baik di kehidupan sosial.
Anak-anak “high function” dapat mengontrol perilakunya, namun, memiliki
kesulitan dalam berteman atau menjadi target pembulian di sekolah. Sebagai
orang dewasa, mereka mungkin mengalami kesulitan untuk bekerja karena lemahnya
kemampuan social mereka. Disini juga memaparkan bahwa karena autisme adalah
sebuah gangguan perkembangan maka kita dapat mendeteksi gejalanya sedini
mungkin, caranya orang tua dapat memperhatikan sebaik apa anak mereka mencapai
perkembangan milestone. Jika tidak sesuai maka sebaiknya kita segera
berkonsultasi kepada pihak professional secepatnya.
Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia di hari Peduli Autisme Sedunia menghimbau agar ketika anak memiliki
gejala autisme, yang harus orang tua lakukan adalah menerima dulu kondisi bahwa
sang anak menyandang autisme dan butuh perhatian ekstra orangtuanya. Dukungan
dan perhatian orang tua, masyarakat dan lingkungan terdekat anak sangat
diperlukan karena biasanya anak penyandang autisme sering dianggap anak aneh,
ada pula yang dianggap anak nakal atau anak yang sulit diatur bahkan dikira
anak gila sehingga mereka mudah sekali mendapatkan kekerasan atau di
diskriminasi lingkungannya. Penerimaan dan perlakuan khusus adalah kunci dari perlindungan anak
autisme. Untuk Ayah dan Bunda yang memiliki anak penyandang autisme, jangan
pernah malu dan menyerah akan keadaan anak kita. Anak penyandang autisme dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal jika Ayah dan Bunda terus mengupayakan
perlindungan khusus secara dini dan intensif.
Ada beberapa metode pembelajaran bagi anak-anak autisme, salah satunya
dalam buku Pengenalan Verbal Behavior yang merupakan salah satu metoda dari ABA
yang mengajarkan new skills (utamanya kemampuan bahasa dan sosial) untuk
anak-anak autis dan berkebutuhan khusus. Dalam verbal behavior, ungkapan
receptive (mengerti) dan ekspresif (berbicara) tidak cukup, sehingga BF Skinner
(pencetus verbal behavior, 1957) membagi kemampuan bahasa ekspresif ini dalam 4
jenis (verbal operant) yaitu manding, tacting, echoic dan intraverbal. Bahasa
ekspresif tidak hanya sang anak mampu berkomunikasi (vokal atau non vokal)
tetapi juga anak mengerti apa fungsi dari bahasa itu tersendiri. Apakah untuk
manding (meminta sesuatu), tacting (melabel benda), echoic (meniru suara) dan
intraverbal (menjawab pertanyaan). Dalam konsep verbal behavior, verbal tidak
sama dengan vokal/berbicara. Selama anak bisa berkomunikasi (vokal, bahasa
isyarat, gambar) itu berarti sudah verbal. Jenis bahasa yang
berlaku umum selain bahasa ekspresif adalah bahasa receptive. Hal ini dalam VB
disebut listener responding, artinya pendengar merespons apa yang
ditanyakan/diutarakan oleh pembicara. Antecedentnya adalah verbal stimulus dari
pembicara, behaviornya adalah non-verbal stimulus dan konsekuensinya adalah non
specific reinforcement juga. Jadi contohnya jika kita “ambil kue”, behaviornya
anak “mengambil kue” dan konsekuensinya anak mendapatkan pujian.
Setelah mengetahui dan mengenal autisme dari beberapa penjabaran diatas
maka saya dapat menarik kesimpulan bahwa para orang tua janganlah berkecil hati
jika anaknya mengalami atau terdiagnosa autisme hal ini dikarenakan anak-anak autism
adalah anak-anak istimewa yang Tuhan hadirkan ditengah-tengah kita sebagai
sebuah kondisi dimana kita para orangtua adalah orang-orang terpilih yang
dianggap mampu untuk menjaga dan mendidik anak istimewa ini. Selain itu sudah
ada pola pendidikan dan peran serta pemerintah untuk menyetarakan para
anak-anak autisme untuk dapat mengenyam pendidikan sama seperti anak-anak
normal pada umumnya.
Dengan demikian akan besar harapan kita agar anak-anak autisme generasi
muda saat ini kedepannya dapat
memberikna kontribusinya untuk membangun bangsa dan Negara. Karena sebagaimana
kita ketahui sudah banyak tokoh-tokoh penting dan terkenal yang ternyata
terdiagnosa autisme seperti yang dilansir oleh INews dalam artikel 5 Tokoh
Dunia yang Mengidap Autis, Namun Mampu Mengubah Dunia: Salah Satunya Albert
Einstein. Menyebutkan bahwa tokoh dunia tersebut adalah ; Wolfgang Amadeus
Mozart merupakan salah satu legenda dalam bidang musik, Lewis Carroll Penulis
buku anak-anak yang berjudul “Alice in Wonderland”, Bill Gates yang merupakan
pendiri Microsoft,
Albert Einstein
dikenal sebagai ilmuwan dan ahli matematika yang mengembangkan teori
relativitas dan Nikola Tesla merupakan penemu gelombang radio dan dinamo motor.
Dan masih banyak juga tokoh penyandang autisme yang terkenal di Indonesia,
salah satunya president ke tiga kita yaitu Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga sang pembuatan pesawat N250 Gatotkaca yang telah
mengharumkan bangsa Indonesia dikancah internasional.
Referensi :
1. Sehatq_ 8 Tahapan Pertumbuhan Manusia, https://www.sehatq.com/artikel/8-tahapan-pertumbuhan-manusia-mulai-dari-kandungan-hingga-lansia
2. Alodok_Autisme , https://www.alodokter.com/autisme
3. Apa itu autisme?-Autism Recovery Network , https://autisme.co.id/autisme/apa-itu-autisme/
4.
Kementrian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia_Hari peduli autism
: Kenali gejalanya,pahami keadaannya, https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1682/hari-peduli-autisme-sedunia-kenali-gejalanya-pahami-keadaannya
5. Pengenalan Verbal Behavior, https://www.rurysoeriawinata.com/pengenalan-verbal-behavior/
6. Tokoh Dunia yang Mengidap Autis, Namun Mampu Mengubah Dunia: Salah Satunya AlbertEinstein , https://www.inews.id/news/internasional/5-tokoh-dunia-yang-mengidap-autis-namun-mampu-mengubah-dunia-salah-satunya-albert-einstein.
Komentar
Posting Komentar